The Essence of Why

By Dr. Amie Primarni

Dalam perjalanan pencarian spiritual, kegelisahan dan kegalauan selalu ada dalam pikiran. Banyak sekali pertanyaan why dalam diri yang tidak bisa terjawab oleh what dan how.

Rumus 5W+H adalah rumus komunikasi dasar untuk menuangkan penjelasan yang ringkas namun lengkap.

Jika kita berpedoman para 5W+H secara struktur terlihat mudah, sebab yang akan teraktualisasi adalah jawaban 5W+H yang dapat terindrai.

Pendengaran dan penglihatan adalah fungsi telinga dan mata yang amat penting untuk bisa mendapatkan pengetahuan melalui akal pikiran. Namun, untuk sampai pada tingkat memahami dan menghayati maka hati-lah yang punya peran.

Sebab itu dalam surat Al-Sajjadah 7-9 dikatakan
Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari sari pati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)wya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur

Pendengaran, penglihatan dan hati, tiga alat ini melengkapi perintah Iqro.

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari ‘Alaq,

Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling Pemurah,Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya,

Maka baca pertama adalah baca melalui fungsi melihat, baca yang kedua adalah baca melalui fungsi pendengaran, dan yang terakhir bacalah melalui fungsi hati ( qalb )

Dimensi penglihatan, dimensi pendengaran dan dimensi hati adalah fungsi yang spektrumnya unlimited, menembus batas langit dan darat, sebab hakikatnya ada di dalam diri manusia dan terkoneksi melalui ruh-Nya yang dititipkan dalam diri manusia.

Maka pertanyaan what adalah pertanyaan yang terjawab untuk telinga, pertanyaan how adalah pertanyaan yang terjawab oleh mata. Dan pertanyaan why, adalah pertanyaan yang akan terjawab oleh hati.

Ketika kita punya kendali diri yang kuat, maka bisikan hati akan berkata ” tak perlu marah” saat kita ingin marah. “Jangan lakukan untuk kepentinganmu sendiri”, saat kita ingin membuat keputusan yang tidak adil. Hati, akan memandu ego hawa nafsu yang meliputi diri manusia.

Maka, mempelajari Islam yang hakekat sejatinya adalah memahami aku di dalam Aku. Tidak ada aku, yang ada Aku. Sebab itu hati akan tunduk padaNya, pada pemilik Aku yang sesungguhnya. Disanalah pertanyaan why, bisa terjawab. Mengapa aku harus berTuhan. Mengapa aku harus mengikutiNya. Mengapa aku diciptakanNya dan Mengapa aku kembali padaNya.

Wallahu Alam Bishawab,
Catatan kajian bersama dr.K.H. Aswin R Yusuf, 1 Feb 2020.

Khutbah Gerhana Prof Nanat: Kita Setitik Debu pun Tidak, Ngapain Sombong?