SNKN 2020: Asia dan Amerika Lebih Berat Terdampak Pandemi

Jakarta, Laa Roiba — Pandemi COVID-19 telah menimbulkan dampak multi sektor. Pandemi ini telah ikut memperparah efek kontraksi perekonomian bagi negara-negara di kawasan Asia, Amerika, Afrika, Eropa dan Australia/Oceania. Asia dan Amerika termasuk kawasan terparah terdampak pandemi Covid-19.

Penelitian Dedi Junaedi dan Faisal Salistia terhadap data dari 135 negara dalam kurun waktu Januari-Agustus 2020, menunjukkan: kasus pandemi, waktu paparan, jumlah penduduk, perbedaan kawasan dan perbedaan status negara berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi negara terdampak dengan koefisien determinasi 63,73%

Tampil dalam peresentasi paralel kelas F di Simposium Nasional Keuangan Negara (SNKN) 2020 hari kedua di Jakarta (5/11), Kepala LPPM IAI-N Laa Roiba menjelaskan bahwa dinamika pertumbuhan ekonomi negara terdampak dipengaruhi oleh jumlah kasus, waktu terpapar, pertumbuhan tahun sebelumnya, jumlah populasi, porsi belanja negara, serta perbedaan kawasan (Asia, Amerika dan Afrika) dan perbedaan status negara (Advance).

Sementara itu, jumlah test dan rasio utang, serta variabel dummy Kawasan Eropa dan status negara berkembang tidak nyata berdampak bagi dinamika pertumbuhan ekonomi. Hasil penelitian menghasilkan model Ekonometri: G-GDP = 0.180117 + 0.00000415DTCASES – 0.303046T_MORBID + 0.000349G-GDP-1 – 3.261571LOGPOP – 12.92822AFRIKA – 14.40056AMERICA – 15.65950ASIA – 15.53806Advance – 0.27973EXP01

Dari model ekonometri, jelas Junaedi, diperoleh temuan bahwa dalam batas tertentu, tambahan kasus tidak selalu membawa kabar buruk. Yang lebih serius adalah dampak waktu paparan. Semakin lama suatu negara terpapar pandemi, semakin berat efek kontraksinya.

Negara maju terdampak lebih berat negara miskin. Demikian juga negara-negara Kawasan Asia, Amerika dan Afrika lebih berat terdampak dari negara di kawasan Australia dan Eropa. Negara kawasan Australia/Oceania tampak lebih berhasil mengatasi tekanan pandemi dalam perekonomiannya.

Mengutip prakiraan IMF, sepanjang 2020, negara-negara maju (Advance Country) mengalami kontraksi pertumbuhan -5,5% (Jerman) hingga -15,4% (AS). Rata-rata – 10.7%. Negara menengah dan berkembang (Emerging Country and Midle Country) mengalami kontaksi antara -4,8 (Rusia) hingga -13,3% (Afrika Selatan). Rata-rata minus 9.1%. Sedang negara miskin (Low Income Developing Contry) mengalami kontraksi rata-rata -5,7%.

Jika pandemi terkendali (dalam kasus dan waktu paparan) serta tidak ada disparitas tatakelola antara kawasan dan antar status negara, maka pertumbuhan ekonomi global berpotensi positif 0.18%. Selama periode Janruari-Agustus 2020, jika belanja pemerintah untuk mengatasi pandemi dinaikkan sebesar satu juta dolar, maka langkah ini berpotensi menambah efek kontraksi sebesar 0,27%.

Dalam tatakelola dampak pandemi, tambah dosen ekonomi syariah IAI-N Laa Roiba, negara kawasa Australia/Oseania lebih baik dari Asia, Amerika dan Afrika. Sementara tatakelola pandemi di Eropa tidak berbeda signifikans dengan tatakelola negara Australia/Oceania. Perbedaan status negara maju berbeda nyata dengan negara miskin. Tetapi, status negara menengah dengan negara miskin tidak berbeda nyata dengan tatakelola penanganan pandemi Covid-19.

”Secara relatif, urutan dampak pendemi terhadap pertumbuhan ekonomi kawasan dari yang terberat ke yang teringan adalah: Asia, Amerika, Afrika, Eropa dan Australia/Oceania,” pungkas Dedi Junaedi menutup presentasinya.

Hari kedua SNKN 2020 yang diselenggarakan BPPK Kementerian Keuangan RI menampilkan empat pembicara kunci dan 25 presenter di forum paralel. Tampil sebagai pembicara kunci adalah Wamenkeu Suahasil Nazara, M Chatib Basri (Menkeu era SBY), Edimon Ginting (ekonom ADB) dan Aviliani (ekonom Indef).[DJ]

Menkeu: Pandemi Membuat Ekonomi Lebih Berat