Menkeu: Pandemi Membuat Ekonomi Lebih Berat

Jakarta, Laa Roiba — Menkeu Sri Mulyani menyatakan pandemi Covid-18 menjadi unprecedented crisis yang memberu shock di sisi demand dan suply. Pandemi memberi efek domino yang membuat tantangan pembangunan semakin berat.

Menkeu Sri Mulyano di SNKN 2020

Tampil sebagai keynote speaker dalam Simposium Nasional Keuangan Negara (SNKN) 2020 di Jakarta, Rabu (4/11, Sri Mulyani menjelaskan bahwa sumber tekanan ekonomi makin tak terprediksi sehingga pembangunan ekonomi yang berkelanjutan menjadi semakin krusial.

Menghadapi efek domino Covid-19 perlu upaya extraordinary karena kondisinya memang juga extraordinary. Di Indonesia, APBN menjadi instrumen kunci untuk mengatasi kondisi pandemi yang menimbulkan shock dan disruption di berbagai bidang. Utamanya bidang kesehatan, sosial, pendidikan dan perekonomiaN

Banyak negara mengalami hal serupa. Umumnya APBN diprioritaskan untuk mendukung langkah pengamanan dan penyelamatan masalah nasionalnya. Akibatnya, defisit anggaran pun membesar.

Atas dasar itu, ada tiga perubahan regulasi yang mengatur defisit APBN 2029. Yaitu 1.76% UU No 20/2019; 5.07% Perpres No 54/2020; dan 6 34% Perpres No 72/2020. Dasar hukum ini penting untuk mendukung kebijakan yang fleksibel, termasuk penyesuaian anggaran dan pelebaran defisit.

Srartegi pembangunan nasional, tambah Menkeu Sri Mulyani, diarahkan untuk mendorong pemulihan eoonomi serta melanjutkan reformasi guna mengatasi masalah jangka menengah dan panjang. Dalam jangka pendek, kebijakan ekonomi diarahkan untuk memulihkan demand dan supply.

Sri Mulyani melanjutkan, kebijakan jangka menengah dan panjang diarahkan untuk meningkatkan daya saing dan produktivitas bagi pembangunan ekonomi yang lehih baik. Sementara kebijakan khusus diambil untuk bidang terkait investasi dan perdagangan (barang dan jasa).

Simposium Nasional Keuangan Negara (SNKN) adalah ajang dua tahunan dari BPPK Kementerian Keuangan RI. SNKN, menurut Kepala BPPK Rionald Silaban, merupakan forum diseminasi ilmu pengetahuan dan informasi yang berkaitan dengan semua bidang kajian yang relevan dengan tugas dan fungsi Kementerian Keuangan.
Forum akan diselenggarakan dalam beberapa bagian, yaitu: plenary session yang menghadirkan pembicara kunci, workshop tentang beberapa isu terkini di bidang keuangan negara dan pengembangan SDM di bidang ini, serta presentasi atas makalah yang telah lolos dari seleksi yang dilakukan secara independen oleh Komite Program.

Bertema Peran APBN untuk Mewujudkan Indonesia yang Sejahtera, Adil, dan Berkesinambungan di Tengah Ekonomi Global, SNKN 2020 ini melibatkan empat pembicara kunci dan 55 pemakalah, jelas Ida Zuraida, Ketua Penyelenggara SNKN 2020.

Selain Menteri Keuangan, tampil sebagai pembicara kunci adalah Kepala Badan Kebijakan Fiskal Febrio Kacaribu dengan topik Pengambilan Kebijakan di Tengah Gejolak Kondisi Ekonomi Global; Muhamad Chatib Basri, Aviliani, dan Edmon Ginting.
55 makalah dari berbagai lembaga lingkup Kemenkeu, LIPI dan sejumlah perguruan tinggi. Semua dibahas dalam dua hari dalam enam kelas sidang paralel. Salah satu penyaji makalah paralel adalah Dedi Junaedi dan Faisal Salistia dari IAI Nasional Laa Roiba. Kedua membahas makalah berjudul Dampak Pandemi Covid-19 bagi Pertumbuhan Ekonomi Negara Terdampak pada Sesi Paralel F pada Kamis (5/11) pukul 11.00-11.30 WIB.[DJ]

SNKN 2020: Asia dan Amerika Lebih Berat Terdampak Pandemi
Dosen IAI-N Laa Roiba Juara 3 Kompetisi Penelitian Inovasi Investasi Keuangan Haji 2020