Hafiz Maroko Tertarik Belajar di IAI-N Laa Roiba

Bogor, Laa Roiba — Sabtu (21/9) siang menjelang sore. IAI-N Laa Roiba mendapat kunjungan tamu istimewa. Seorang anak muda dari Maroko. Perawakannyatinggi, ganteng, hafiz Al-Qur’an 30 juz dan kitab Alfiyah Ibn Malik pemuda asal Maroko. Namanya, Habib Yasin Al Wazani At-Tihami At-Tibi bin Muhammad Al-Hasan.
”Assalamualaikum. Ismi Yasin, min Maghribi,” ungkapnya saat berkenalan dengan Ketua LPJM Laa Roiba, Moh Romli.
”Wa’alaikumussalam. Ismi Romli, min Indunisi. Ahlan wasahlan bihudhurikum fil jamiatul islamiah Laa Roiba,” jawab Moh Romli menyambut tamu asal Maroko itu.
Habib Yasin sengaja datang ke kampus IAI-N Laa Roiba untuk dua tujuan. Pertama, menyambung silaturahim sebagai sesama saudara satu akidah. Yang kedua, ingin bertemu pimpinan IAI-N Laa Roiba, sekaligus penjajakan untuk merampungkan studi Program S-1 di kampus Laa Roiba.
Oleh karena pimpinan IAI-N Laa Roiba sedang ada acara di luar, yakni sedang menghadiri acara pembukaan perkuliahan S-2 di Kampus I Leuwiliang, tamu Al-Hafid Yasin asal Maroko diterima Moh Romli (LPJM), Abu Aly (Pusat Bahasa Laa Roiba), dan Dedi Junaedi (LPPM).
”Alhamdulillah, akhirnya saya bisa bertemu saudara-saudara saya di sini. Masya Allah.. kampus ini luar biasa indah. Saya nyaman di sini. Syukron djazilan,” ungkap Habib Yasin.
”Saya mendapat informasi kampus Laa Roiba dari Mr Abu Ali. Di Magribi, tempat kelahiran, Saya kuliah ushuluddin sampai semester 4. Belum selesai, sudah keburu bertugas mengajar bahasa Arab dan tahfidz di Indonesia. Saya ingin menyelesaikan studi saya di sini, jika memang dimungkinkan,” jelasnya.
Romli bertanya: “Di kampus sini ada sejumlah prodi: pendidikan Agama Islam, pendidikan guru madrasah, manajemen pendidikan Islam, ekonomi syariah, akhwalu syaksiah, dan komunikasi penyiaran Islam, Anda tertarik mengambil program studi apa?”
Habib Yasin menjawab: ”Pada dasarnya saya tertarik dengan semua, pendidikan Islam, dakwah Islam, atau Ekonomi Islam. Tapi, jika harus milih, tampaknya saya akan pilih komunikasi dakwah Islam.”
”Oh itu ada di KPI. Kebetulan ini prodi baru, mahasiswanya juga hampir semuanya berasal dari santri tahfiz Al-Qur’an. Kami kira ini komunitas Anda. Semoga berjodoh di sini, Habib Yasin,” komentar Dedi Junaedi.
”Masya Allah..semoga ada jalan ya. Saya bisa merampungkan S-1 saya di kampus Laa Roiba.”
”Aamiin. In sha Allah. Kami sedang dan akan terus berusaha membuka jalan agar kampus ini bisa menerima mahasiswa asing, seperti Anda!”
”Syukron. Saya tertarik kampus ini. Orang-orangnya ramah, lingkungannya baik, penuh kebaikan. Saya akan sangat senang bila nanti bisa belajar bersama, mendalami ilmu dakwah dan komunikasi. Itu sesuai dengan latar pendidikan dan minat saya.”
Ketika ditanya, mana lebih sulit bahasa Arab atau bahasa Inggris, Habib Yasin menjawab: Sebenarnya, semua bahasa sama, bisa dipelajari. Tergantung pada pemikiran dan kecintaannya terhadap bahasa itu. ”Saya berharap mahasiswa dan dosen bisa berbahasa Inggris dan Arab.”
Menurut pengakuannya, Habib Yasin sementerara tinggal di Sukabumi. Dia ikut membantu Pesantren Tahfiz Pulo Air, milik KH Abddulah Abdulrasyid Syafii.[DJ]

IAI-N Laa Roiba Tuan Rumah Seminar Islam Rahmatan Lil 'Alamin
Gurubesar UIN Bandung: Dosen Kunci Perbaikan Kualitas PT