ETIKA KOMUNIKASI MEDIA SOSIAL

Oleh Dr Amie Primarni M.Pd
Kaprodi Pascasarjana IAI-N Laa Roiba Bogor

Berikut ini adalah catatan saya dari Seminar Nasional Etika Komunikasi Media Sosial di Mataram: Upaya Membangun Harmoni di Era 4.0 di STAHN Gde Pudja Mataram, Senin 5 Agustus 2019.

Kebetulan, saya selaku Kaprodi Pascasarjana IAI-N Laa Roiba mendapat undangan untuk menjadi pembicara dalam kegiatan seminar sehari tersebut.

Hari ini kita seringkali lupa bahwa sejatinya saat kita menulis di laman-laman media sosial kita sedang berhadapan dengan manusia.

Menulis dan membaca adalah pilar komunikasi media sosial saat ini. Sebelum ada media sosial, media tatap muka memberi kita ruang lebih banyak untuk memahami apa yang disampaikan. Gesture, intonasi suara, mimik memberi kita kemudahan dalam menangkap maksud pesan yang sampai.

Tapi hari ini tidak demikian adanya. Komunikasi media sosial tidak memberi kita ruang untuk menangkap maksud. Oleh sebab itu, komunikasi sosial membutuhkan kehati-hatian dalam menyampaikan tulisan, sekaligus kehati-hatian dalam membaca tulisan. Pilihan diksi yang tepat, susunan kata yang runtut menjadi ukuran kualitas tulisan.

Jika kita kembali ke etika komunikasi, khususnya media sosial, maka itu berarti kita menyandarkan adab pada terpenuhinya etika intelektual, etika emosi, etika religuis dan etika fisik.

Seharusnya media sosial bisa turut serta menjadi wahana pendidikan komunikasi dialogis yang merekatkan bangsa.

Bukti bahwa media sosial mampu menjadi wahana yang positif adalah pertemanan saya dengan Dr. Ni Putu Listyawati dan mbak Mey Susanti. Saya bisa hadir di Lombok bertemu mereka difasilitasi media sosial.

Hari itu kita ada di dua alam, satu adalah alam realitas sosial dan satu lagi alam kontruksi sosial. Di masa lalu manusia bisa “menjadi” membutuhkan waktu yang lama, hari ini hanya dalam hitungan detik orang bisa “berubah”.
Proses perubahan tidak lagi butuh waktu lama. Karena itu siapa yang tidak memperbaharui dirinya maka dia akan kehilangan ide, dan inspirasi dan akan meluruhkan kreatifitasnya.

Demikian catatan saya atas seminar bersama Prof. Dr. Burhan Bungin PhD.

Terima kasih Prof. Dr. Burhan Bungin, sebuah kehormatan saya bisa bersama dalam satu panggung.

Terima kasih kepada Ketua STAHN Gde Pudja Mataram, Direktur Pascasarjana Ibu Dr.Ni Putu Listyowati. Seluruh panitia seminar nasional.

Semoga yang sedikit ini, bisa bermanfaat. Dan kita bisa jumpa lagi dalam moment yang lain.

Alhamdulillah, Dokumen AIPT IAI-N Laa Roiba Sudah Terupload di Web BAN-PT
Tim IAI-N Laa Roiba Sibuk Menyusun Dokumen AIPT